BERLATIH SENI KREASI GARUT – PERTEMUAN KEDUA KREASI GARUT

[Sabtu, 19 April 2025]

Girimukti – Kab. Garut (Jawa Barat): Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilakukan pada Sabtu, 19 April 2025 dan bertempat di Gedung Aula Al-Khaeriyah Cibatu, Jl. Jend. A. Yani, Cibatu, Keresek, Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk melatihan pemuda serta masyarakat dalam membuat sebuah pertunjukan kesenian kreasi yang di dalamnya terdiri dari beberapa kesenian, yaitu: Seni Musik Dwiwarna, Seni Angklung, Seni Tari Kreasi, Seni Arumba, dan Seni Raja Dogar.  Dari beberapa kesenian ini juga dikreasikan dan ditampilkan secara kolaboratif. Adapun Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing yaitu: (1) Raya Tri Saputra, S.Pd (Seni Musik Dwiwarna), (2) Rosa Nur Afifah (Seni Angklung), (3) Gan Gan Galih Gandara, S.Sn. (Seni Tari Kreasi), (4) Ricky Destiawan (Seni Arumba), dan (5) Hermanto (Seni Raja Dogar).

Narasumber atau pelatih kesenian menyampaikan materi lanjutan dari keseniannya masing-masing yaitu: (1) Nama Notasi Pada Paranada dan Fungsi Kunci (2) Sejarah Angklung (3) Ciri-ciri Tari Kreasi (4) Arumba Padaeng & Udjo dan (5) Struktur Musikal Raja Dogar. Selanjutnya, kegiatan ini juga diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh Riko Robi sebagai moderator acara ini. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber/pelatih.

Rosa Nuraf menyampaikan Angklung merupakan alat musik asal Indonesia yang terdiri atas 2 sampai 4 tabung bambu yang digantung dalam bingkai bambu pula. Ikatannya menggunakan tali rotan. Tabung ini dipangkas dan dipotong dengan hati-hati oleh pengrajin angklung ahli demi menghasilkan nada tertentu. Sebelum Indonesia mengenal pengaruh Hindu pada kira-kira abad ke-5 Masehi, angklung diyakini sudah ada. Jaap Kunst dalam Music in Java berpendapat, angklung ditemui pula di daerah Sumatera Selatan dan Kalimantan meskipun merupakan alat musik tradisional Jawa Barat. Tercatat, sejarah penggunaan angklung di Jawa Barat sendiri dimulai pada masa Kerajaan Sunda, yakni pada sekitar abad ke-12 hingga ke-16. Alat musik bambu ini digunakan oleh masyarakat Sunda untuk melakukan upacara ritual. Masyarakat Sunda yang agraris mempercayai keberadaan Nyai Sri Pohaci / Dewi Sri sebagai Dewi Padi, pemberi kehidupan (urip-urip).

Untuk memikat Dewi Sri agar turun ke bumi dan memberkati tanaman padi mereka agar terhindar dari bencana alam dan kegagalan panen, masyarakat mempersembahkan puji-pujian yang disertai bunyi-bunyian pengiring bernada ritmis dengan melodi yang berulang. Selain untuk pemujaan, kisah yang tercatat dalam Kidung Sunda juga mengungkap bahwa alat musik ini dimainkan untuk memacu semangat prajurit saat peperangan. Meski kegunaannya sangat berbeda dengan saat ini, angklung masih digunakan sebagai alat musik untuk beragam pertunjukan. Misalnya, pertunjukkan angklung dilakukan oleh Daeng Soetigna, seorang tokoh angklung nasional, pada Perundingan Linggarjati 1946 setelah proklamasi. Saat ini, Daeng sendiri dikenal dengan julukan Bapak Angklung Indonesia yang berhasil menciptakan alat musik itu dengan tangga nada diatonis yang bisa dimainkan dengan harmonis bersama alat musik lainnya.

“Kemudian, Pembahasan Seni Arumba seputar tokoh-tokoh yang berhubungan langsung dengan kesenian ini. Udjo Ngalagena, lahir pada 5 Maret 1929 di Bandung, Jawa Barat, adalah murid dari Daeng Soetigna dan penerus semangatnya dalam memajukan angklung. Udjo dikenal sebagai pendiri Saung Angklung Udjo seta sebuah pusat budaya dan pendidikan yang berfokus pada pelestarian serta pengembangan angklung. Udjo Ngalagena juga mengembangkan teknik bermain angklung dengan laras pelog dan salendro. Didirikan pada tahun 1966, Saung Angklung Udjo di Bandung menjadi pusat pelatihan dan pertunjukan angklung yang terkenal. Tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar angklung, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya yang menarik ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri setiap tahunnya. Di Saung Angklung Udjo, Udjo Ngalagena dan keluarganya mengajarkan cara membuat dan memainkan angklung, serta menyelenggarakan berbagai pertunjukan budaya yang menampilkan seni musik dan tarian tradisional Sunda. Usaha ini bertujuan untuk melestarikan budaya lokal sekaligus memperkenalkan angklung kepada dunia internasional.

Kedua tokoh ini, Daeng Soetigna dan Udjo Ngalagena, memiliki kontribusi yang tak ternilai dalam sejarah perkembangan angklung. Daeng Soetigna dengan inovasi angklung diatonisnya telah memungkinkan angklung untuk beradaptasi dengan musik modern, sementara Udjo Ngalagena dengan Saung Angklung Udjo-nya telah menciptakan platform yang kuat untuk pelestarian dan promosi angklung secara berkelanjutan. Berkat upaya mereka, angklung diakui oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada tahun 2010. Angklung masuk dalam warisan budaya tak benda atau Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pengakuan ini menegaskan pentingnya angklung sebagai bagian dari warisan budaya dunia yang harus dilestarikan.” ucap Ricky Destiawan pelatihan Kesenian Arumba.

Selanjutnya, Jenis tarian yang diciptakan oleh seorang koreografer dengan mengembangkan elemen-elemen tari tradisional atau baru, namun dengan lebih banyak inovasi dan kebebasan dalam bentuk dan gerakan. Tari ini lebih bebas dibandingkan tari tradisi dan seringkali mencampurkan berbagai unsur dari tarian lain. Adapun ciri-cirinya yaitu: mengandung unsur inovasi dan kebebasan ekspresi, dapat menggabungkan elemen elemen tradisional atau modern, cenderung lebih fleksibel dalam hal gerakan dan penggunaan musik.” Ujar Gan Gan Galih Gandara, Pelatih Seni Tari Kreasi.

Adapun Bentuk pertunjukannya Raja Dogar merupakan jenis seni ketangkasan yang memainkan peran layaknya pertandingan adu domba. Selain pemain yang berperan Domba Garut yang  memakai kostum khusus, juga terdapat beberapa pemain yang berperan sebagai bobotoh (supporter) yang berpakaian serba hitam. Para bobotoh inilah yang berperan memegang domba tersebut. Bentuk kostum Raja Dogar mirip dengan domba asli hanya saja ukurannya lebih besar dimana untuk 1 domba dimainkan oleh 2 orang dimana satu orang dibagian kepala dan satu orang lagi di bagian belakang. Dilihat secara teknis hampir mirip dengan barongsai namun kostum lebih tertutup layaknya domba Garut, tutur Hermanto, Pelatih Raja Dogar.

Materi dalam Musik Dwiiwarna mempelajari tentang penulisan not bertangkai. Penulisan tangkai pada not pada dasarnya tergantung kebutuhan, demikian pula letak tangkai. Namun biasanya untuk penulisan notasi atau melodi satu jalur suara, apabila posisi not berada dibawah garis ketiga, letak tangkai di sebelah kanan not mengarah ke atas. Bila posisi not berada diatas garis ketiga, letak tangkai disebelah kiri not mengarah kebawah. Adapun panjang sesuai kebutuhan, hanya saja panjang antara tangkai not satu dengan tangkai not yang lainnya harus sama. Fungsi kunci dalam penulisan notasi balok adalah sebagai “pembuka pintu” untuk mengetahui nama dan tinggi rendahnya nada, artinya bahwa not-not yang terdapat dalam paranada tidak dapat dibaca atau dinyanyikan apabila tidak memakai lambang kunci. Dalam penulisan notasi balok kita kenal kunci G, F Dan C.” Raya Tri Saputra.

 “Pertemuan Kedua ini mempelajari bahasan lanjutan dari setiap kesenian, sebelum berakhir sesi tiap pertemuan, maka seluruh peserta dalam masing-masing kelompok akan menampilkan hasil pembelajaran selama satu pertemuan penuh dan perkembangan gerakan-gerakan keseniannya”. ucap Pengurus Yayasan Lawung Giri Pamukti, Hendi Ahmad Sarip.

Picture of Admin
Admin

Penulis blog di Yayasan Lawung Giri Pamukti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *