[Sabtu, 22 Maret 2025]
Girimukti – Kab. Garut Jawa Barat: Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilakukan pada Sabtu, 22 Maret 2025 dan bertempat di Gedung Sergabuna Girimukti Desa Girimukti, Kecamatatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk menciptaan sebuah seni kolaborasi tradisional garut yang terdiri dari beberapa seni tradisional yaitu: Seni Dodombaan, Seni Tari tradisional, Seni Gamelan Degung, Seni Gamelan Awi, Seni Badeng. Adapun Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing yaitu (1) Usman Suhana Basri, S.Sn. (Seni Gamelan Degung) (2) Bambang JB, S.Sn. (Seni Tari Tradisional) (3) Dedi Djunaedi. (Sanggar Seni Badeng) (4) Tatang Suparman (Seni Jampana Dodombaan) (5) Dedi Supriadi (Seni Gamelan Awi). Dengan materi yang dibawakan ialah (1) Seni Badeng: Sebuah Proses Revitalisasi dan Kolaborasi Seni. (2) Gamelan Degung: Nilai dan Sejarah (3) Gamelan Awi Kolaborasi (4) Seni Dodombaan Kolaborasi Garut. (5) Evaluasi dan Kritik Tari.

Pada pertemuan kelima ini, kegiatan seperti biasa diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh moderator. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber. Jumlah peserta kegiatan yaitu 50 peserta dari laki-laki dan perempuan pemuda dan masyarakat yang aktif dan tertarik dalam kesenian tradisional garut. Pada pertemuan seluruh kelompok mulai mengulas kembali apa yang dipelajari baik teori dan praktiknya dan juga mempersiapkan untuk melakukan kolaborasi seni tradisional.

Salah satu hal yang harus diperhatikan setelah penciptaan seni tradisional ini yaitu Kritik dari sebuah kesenian. Kritik merupakan salah satu cara untuk mempertanyakan, mengevaluasi, atau mencari terobosan baru untuk mendapat kemungkinan yang lebih baik. Dengan kata lain, kritik tidak selalu berisi celaan atau hujatan. Kritik memiliki fungsi strategis yang diperlukan oleh pelaku seni tari, serta penikmat atau penontonnya. Selain itu, kritik juga berfungsi untuk mengembangkan seni tari. Tutur Bambang

Usman Suhan Basri menyatakan Kesenian Gamelan Degung juga mengambil peran penting dalam berlangsungnya pertunjukan seni. Degung diharuskan untuk mengiri pertunjukkan dari awal sampai akhir dengan musik khas yang dihasilkannya. Gamelan Degung juga memiliki peran sosial yang signifikan dalam masyarakat Sunda penggunaannya dalam berbagai acara tradisional tidak hanya menciptakan suasana yang meriah, akan tetapi juga menimbulkan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan. Alat musik Gamelan Degung menjadi perekat sosial yang membawa orang-orang dalam kegembiraan dan suatu kebanggaan tersendiri akan warisan budaya mereka. Gamelan Degung yang berasal dari Sunda, mencerminkan keindahan dan kemegahan tradisi musik. Alat music seperti bonang, saron, peking, gambang, kecapi, suling, dan kendang memberikan nuansa khas dalam ansambel Gamelan Degung keberagaman alat musik tersebut, baik yang bersifat perkusi, petik, maupun tiup, menunjukkan betapa kompleksnya warisan seni dan musik Jawa.Tidak hanya dalam konteks seni musik, pentingnya pelestarian Gamelan Degung juga sebagai bahan tidak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Sunda.

Adapun Kesenian Gamelan Awi yang awalnya dijadikan hanya sebagai opsi pengganti dari gamelan yang berbentuk logam. Namun hal ini juga dapat dikolaborasikan agar menghasilkan musik yang bervariasi. Berbeda dengan menggunakan bambu yang lebih murah dan mudah ditemukan bahan-bahannya. Dengan menggunakan gamelan bambu ini tentunya untuk memainkan dan mempelajari permainan gamelan pada umumnya dapat dilakukan dengan mudah tanpa memerlukan biaya yang tinggi. Meskipun bertujuan sebagai alternatif pada awalnya, namun pembuatan dan penciptaan gamelan awi menjadi kreasi yang inovatif. Hal ini didasari karena gamelan awi adalah hasil karya baru sebagai bagian perkembangan dari gamelan. Demikian halnya dalam proses pembuatan memerlukan tahapan-tahapan yang tentunya diperlukan keahlian bagi si pembuatnya. Alhasil Gamelan Awi merupakan alat musik kreasi sebagai alternatif namun dapat dijadikan alat musik mandiri yang khas dan unik. Ucap Dedi Junaedi

Kesenian Badeng yang ada di Garut harus dilakukannya proses regenerasi menjadi hal penting untuk keberlangsungan seni Badeng. Di samping melalui proses pembinaan dan latihan adalah dengan memberikan motivasi untuk membangun rasa kepemilikan bersama agar tercipta rasa kerja sama yang baik dalam mengembangkan seni Badeng ini. Tutur Dedi Supriadi

Yang terakhir, Kesenian Jampanan Dodombaan yang mencerminkan kegagahan dan keperkasaan domba Garut. Menjadi bagian dari ikon Kabupaten Garut. Menjadi kebanggan masyarakat Garut. Mengapa demekian, karena untuk menjalankan kesenian ini diharuskan untuk memiliki tubuh yang kuat dikarenakan akan memikul properti dodombaan yang dipandu di atas bahu.
Setelah semuanya kesenian siap, maka dilakukanlah pentas pertunjukan di lokasi gedung untuk menampilkan hasil yang telah dipelajari selama proses pelatihan yang berlansung dalam lima pertemuan. Hasil pertunjukan ini akan menjadi sebuah karya seni milik Yayasan Lawung Giri Pamukti yang nantinya akan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual. Harapannyanya kesenian-kesenian ini mampu untuk dirawat dan dilestarikan bagi generasi penerusnya.





