PERTEMUAN KEEMPAT – MENCIPTAKAN SENI TRADISIONAL KOLABORASI

[Sabtu, 15 Maret 2025]

Girimukti – Kab. Garut Jawa Barat: Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilakukan pada Sabtu, 15 Maret 2025 dan bertempat di Gedung Sergabuna Girimukti Desa Girimukti, Kecamatatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk menciptaan sebuah seni kolaborasi tradisional garut yang terdiri dari beberapa seni tradisional yaitu: Seni Dodombaan, Seni Tari tradisional, Seni Gamelan Degung, Seni Gamelan Awi, Seni Badeng. Adapun Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing yaitu (1) Usman Suhana Basri, S.Sn. (Seni Gamelan Degung) (2) Bambang JB, S.Sn. (Seni Tari Tradisional) (3) Dedi Djunaedi. (Sanggar Seni Badeng) (4) Tatang Suparman (Seni Jampana Dodombaan) (5) Dedi Supriadi (Seni Gamelan Awi). Dengan materi yang dibawakan ialah (1)1 Seni Badeng: Struktur Lagu dan Pola Tabuh (2) Memainkan Gamelan Degung Kolaboratif (3) Memainkan Gamelan Awi Kolaboratif (4) Peranan Seni Jampana Dodombaan (5) Mempergelarkan Karya Tari.

Pada pertemuan keempat ini, kegiatan seperti biasa diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh moderator. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber. Jumlah peserta kegiatan yaitu 50 peserta dari laki-laki dan perempuan pemuda dan masyarakat yang aktif dan tertarik dalam kesenian tradisional garut. Pada pertemuan seluruh kelompok mulai mempersiapkan untuk sebuah pementasan dan pertunjukan. Selain itu juga mempersiapkan pertunjukan seni kolaborasi dari beberapa kesenian.

Menurut Tatang Suparman mengatakan tentang cara pertunjukan seni dodombaan dengan gerakan pencak silat dan adu domba disesuaikan dengan iringan tembang domba Garut, Domba buatan dipanggul oleh para pemikul, Kostum pemikul domba serasi. Musik pengiring Seni Jampana Dodombaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun instrumental) antara lain: Lagu Kidung,, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong, dll.) Lagu lagu dalam Dodombaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu.

Selain itu, dalam kesenian badeng unsur vokal memiliki peranannya yang sangat penting. Hal ini disebabkan oleh makna lirik lagu yang dibawakan berkaitan dengan konteks seni Badeng sebagai sajian hiburan dan media pendidikan terutama ajaran Islam. Nyanyian dalam seni Badeng sangat beragam, dan satu sama lain berbeda, baik ditinjau dari segi lirik maupun melodinya. Dalam sajian pertunjukannya, lagu yang dibawakan dalam seni  Badeng terdiri dari lagu pokok dan lagu tambahan. Lagu pokok adalah lagu yang dibawakan dalam struktur penyajian pokok pada seni Badeng. Sedangkan lagu tambahan adalah lagu yang dibawakan dalam sajian tambahan. Empat buah lagu yang akan diungkapkan dalam penulisan ini merupakan lagu yang termasuk ke dalam lagu-lagu pokok. Lagu-lagu pokok ini merupakan lagu yang dibawakan dengan struktur yang tetap pada setiap pertunjukannya. Ucap Dedi Djunaedi.

Dedi Supriadi menyampaikan disamping berfungsi sebagai pengiring dalam membawakan lagu, gamelan awi dapat difungsikan secara kolabarotif. Kolaborasi dalam seni adalah menggabungkan 2 atau lebih beberapa jenis kesenian pertunjukan. Sehingga dalam prosesnya diperlukan proses Kerjasama. Gamelan awi dapat dapat difungsikan secara kolaboratif sebagai pengiring seperti pengiring tari, teater, atau dengan beberapa kesenian tradisional lainnya.

Untuk gamelan degung dipergunakan untuk kolaboratif, diperlukan proses latihan dan penciptaan. Proses latihan dan penciptaan tersebut dapat dilakukan dengan tahapan: Menentukan jenis pertunjukan kolaboratif misalkan sebagai  pengiring tari atau teater. Melakukan eksplorasi bersama antar seniman lainnya misalkan dengan koreografi atau sutradara drama. Melakukan proses penciptaan dan pelatihan bersama. Melakukan pertunjukan. Tahap-tahap di atas tidaklah mutlak, bisa saja karya diawali dari seni lainnya terlebih dahulu misalkan konsep tariannya sudah ada, kemudian tim gamelan degung mengeksplorasi musik yang sesuai dengan tema dan gerakan tari yang telah diciptakan. Ucap Usman Suhana Basri

Adapun yang juga tidak kalah penting dalam salah satu seni tradisional yaitu seni tari tradisional dengan membentuk gerakan tradisional, mempersiapkan kostum, dan mempersiapkan pagelarannya dengan baik. Selain itu, para peserta juga diharuskna untuk gladi bersih atau GR (general repetition) dilakukan dua atau tiga hari sebelum pelaksanaan. Ini merupakan latihan dari awal hingga akhir untuk mendapat gambaran mengenai pergelaran sesungguhnya nanti, tutur Bambang

Picture of Admin
Admin

Penulis blog di Yayasan Lawung Giri Pamukti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *