[Sabtu, 22 Februari 2025]
Girimukti – Kab. Garut Jawa Barat: Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilakukan pada Sabtu, 22 Februari 2025 dan bertempat di Gedung Sergabuna Girimukti Desa Girimukti, Kecamatatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk menciptaan sebuah seni kolaborasi tradisional garut yang terdiri dari beberapa seni tradisional yaitu: Seni Dodombaan, Seni Tari tradisional, Seni Gamelan Degung, Seni Gamelan Awi, Seni Badeng. Adapun Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing bahkan narasumber tersebut memiliki sanggar yang telah dikembangkan di Kabupaten Garut. Adapun narasumber terdiri dari (1) Usman Suhana Basri, S.Sn. (Seni Gamelan Degung) (2) Bambang JB, S.Sn. (Seni Tari Tradisional) (3) Dedi Djunaedi. (Sanggar Seni Badeng) (4) Tatang Suparman (Seni Jampana Dodombaan) (5) Dedi Supriadi (Seni Gamelan Awi). Dengan materi yang dibawakan ialah (1) Bentuk dan Struktur Pertunjukan Seni Badeng (2) Gamelan Degung sebagai Pengiring Tari Merak (3) Proses Pengolahan dan Pembuatan Gamelan Awi (4) Filosofi, Ciri Khas, Gerakan Seni Jampana Dodombaan (5) Rancangan Manajemen Pagelaran Tari
Pada pertemuan ketiga, kegiatan seperti biasanya diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh moderator. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber. Jumlah peserta kegiatan yaitu 50 peserta dari laki-laki dan perempuan pemuda dan masyarakat yang aktif dan tertarik dalam kesenian tradisional garut.

Tatang Suparman sebagai Pelatih dari Seni Dodombaan menjelaskan bahwa Komposisi gerakan pada atraksi seni tradisional “Dodombaan” ini menyesuaikan dengan atraksi laga Domba Garut, sehingga jempana yang berbentuk Domba Garut diciptakan layaknya dua ekor Domba yang sedang berlaga. Gerakan Seni dodombaan ini disesuaikan dengan iringan tembang domba Garut, sehingga jampananya berbentuk domba garut, dan seakan-akan sedang berlaga diarena. Gerakan pembuka yaitu Salam, Gerak Dasar Silat, Gerakan inti yaitu Gerak Ayun Ambing, Jalan Sauyunan, Angkat Jungjung, Mundur Maju – Geser Kenca Katuhu, Puter Taktak, Ngadu domba, Antraksi dan Gerakan penutup Salam.
Selain itu, Bambang menuturkan terkait pembahasan manajemen tari. Manajemen pergelaran tari adalah suatu proses perencanaan dan pengambilan keputusan sebuah pergelaran yang terhubung dengan pelaksanaan pementasan, mulai dari materi pementasan sampai pada artistik di atas panggung. Dedi Djunaedi menyampaikan Bentuk pertunjukan Seni Badeng ada dua bentuk, yakni: Seni pertunjukan, yakni seni Badeng yang dipentaskan di atas panggung atau arena pertunjukan tertentu. Seni Helaran, yakni seni Badeng yang dipentaskan dalam bentuk pawai atau karnaval. Struktur pertunjukan dalam Seni Badeng biasanya disebut dengan babak. Setiap babak memiliki nama dan pola yang berbeda-beda baik dari gerak, pola lantai dan iringan lagunya.
Dedi Supriadi juga menjelaskan tentang bagaimana sistem alat kesenian gamelan awi atau yang dikenal dengan gamelan bambu. Pada gamelan awi terdapat dua bentuk intrumen yang menyebabkan proses pembuatan instumen ini memiliki dua tahapan berbeda. Untuk itu instrument gamelan awi dibagi menjadi dua yang dikelompokan berdasarkan bentuknya. yang pertama berbentuk wilahan (bilah) seperti gamelan perunggu dan yang kedua berbentuk seperti celempung. Instrumen yang memiliki bentuk wilah mencakup saron satu, saron dua, panerus, rincik, dan bonang, sedangkan yang berbentuk seperti celempung adalah kempul dan goong.

Disamping berfungsi sebagai pengiring dalam membawakan lagu, gamelan degung dapat difungsikan untuk mengiringi tarian. Setiap jenis tarian memiliki pola dan lagu yang berbeda-beda tergantung kebutuhan jenis tarian yang dibawakan. Dalam menabuh gamelan degung untuk iringan tari, diperlukan proses latihan. Proses latihan tersebut dapat dilakukan dengan teknik: (1) Menggunakan notasi angka. (2) Demonstrasi dan simulasi. Teknik pertama, pemain harus tahu sistem notasi angka yang digunakan dalam gamelan degung. Hal ini tentunya memerlukan proses pembelajaran yang lama karena dieperlukan keahlian bagi pemain untuk mengenal dan menguasai notasi angka. Pemain hanya perlu membaca notasi yang ada kemudian dimainkan. Teknik kedua, pemain hanya mengikuti arahan yang didemonstrasikan langsung oleh instruktur kemudian di simulasikan. Teknik ini memerlukan konsentrsi dan daya ingat pemain yang baik. Untuk membantu daya ingat, pemain bisa dengan merekam demonstrasi dan simulasi menggunakan media rekam seperti handphone, kemudian melatihnya secara terus menerus. Ujar Usman Suhana Basri
Semakin sering dan lama pertemuan pelatihan ini dilakukan, maka ilmu yang diterima oleh peserta pelatihan juga semakin meningkat, setiap harinya peserta memperlajari hal-hal yang berbeda sehingga peserta juga diharapkan mampu dan layak untuk melakukan sebuah pertunjukan kesenian. ucap Herman Hidayat selaku penangungjawab kegiatan.





