[Sabtu, 15 Februari 2025]
Girimukti – Kab. Garut Jawa Barat : Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilakukan pada Sabtu, 15 Februari 2025 dan bertempat di Gedung Sergabuna Girimukti Desa Girimukti, Kecamatatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk menciptaan sebuah seni kolaborasi tradisional garut yang terdiri dari beberapa seni tradisional yaitu: Seni Dodombaan, Seni Tari tradisional, Seni Gamelan Degung, Seni Gamelan Awi, Seni Badeng. Adapun Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing bahkan narasumber tersebut memiliki sanggar yang telah dikembangkan di Kabupaten Garut. Adapun narasumber terdiri dari (1) Usman Suhana Basri, S.Sn. (Seni Gamelan Degung) (2) Bambang JB, S.Sn. (Seni Tari Tradisional) (3) Dedi Djunaedi. (Sanggar Seni Badeng) (4) Tatang Suparman (Seni Jampana Dodombaan) (5) Dedi Supriadi (Seni Gamelan Awi). Dengan materi yang dibawakan ialah (1) Seni Badeng Padasuka – Cibantu Alat yang Digunakan (2) Perangkat dan Fungsi Alat Musik Gamelan Degung (3) Bahan-Bahan yang digunakan Pada Gamelan Awi (4) Seni Jampana Dodombaan Asal Usul dan Refleksi (5) Kereografi Tari. Pada pertemuan kedua ini, kegiatan ini juga diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh moderator. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber.

Pertemuan kedua ini juga peserta tentunya mendapatkan materi tambahan dan dan materi lanjutan dari pertemuan selanjutnya. Untuk menabuh Bonang dalam digunakan dua teknik, yakni: dikemprang yaitu menabuh dengan menggunakan ke dua tangan dengan jarak satu gembyang secara bersamaan dan, dicaruk dua waditra yang dipukul secara bersahutan, bila yang satu jatuh pada ketukan ke satu dan ke tiga maka yang lainnya jatuh pada bilangan ke dua dan ke empat. Waditra saron sebagai pengisi melodi pada gamelan degung baik saron 1 maupun saron 2 tiap tabuhannya menggunakan tangan kanan untuk memukul dan tangan kiri menengkepnya atau dijepit, tujuannya agar suara waditra yang dipukul tidak terlalu panjang suaranya sehingga akan mendegung. Demikian pula menabuh goong kecil atau kempul, selain tangan kanan yang bertugas untuk memukul, juga digunakan tangan kiri untuk menengkep kempul agar panjang suara diatur seperlunya agar tidak terlalu panjang. Untuk berlatih memainkan gamelan degung, dimainkan secara beraturan dimulai dari melatih pemain bonang, kemudian saron 1 (peking), saron 2 (Panerus), Jenglong, kendang, dan goong. Hal ini dilakukan agar kita dapat membedakan perbedaan antara waditra, dan terakhir dilakukan bersamaan agar terdengar suara harmonisasi yang dihasilkan dari gamelan degung. Ucap Usman Suhana Basri

Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan intrumen ini adalah bambu yang merupakan bahan utama serta rotan dan tali sebagai bahan pendukung. Berdasarkan pengalaman ada tiga jenis bambu yang dapat digunakan sebagai bahan baku gamelan awi yaitu: Bambu Hitam/Awi Hideung, Bambu Gombong, Bambu Apus. Ucap Dedi Djunaedi.
“Dalam kesenian badeng tidak hanya menggunakan angklung besar. Bahan yang digunakan untuk Angklung ini adalah bambu hitam. Selain Angklung dalam seni Badeng juga alat yang khasnya adalah Dog-Dog Lojor. Dog-Dog Lojor adalah alat musik tepuk yang berukuran Panjang. Untuk memandu irama dalam badeng juga digunakan goong bende. Goong ini merupakan goong berukuran kecil yang sering digunakan pula dalam musik kendang pencak silat.” tutur Dedi Supriadi

Tatang Suparman menyampaikan seni dodombaan berasal dari salah satu domba milik Haji Saleh, yang dikenal sebagai si Lenjang, diminta oleh bupati untuk dikawinkan dengan domba yang ada di pendopo kabupaten yang bernama si Dewa. Anak dari si Dewa dan si Lenjang, yang bernama si Toblo, kemudian berkembang biak dan menghasilkan keturunan domba Garut hingga saat ini. Persilangan domba cape dari Afrika Selatan dengan domba Merino dari Australia. Hal ini menghasilkan motto yang terkenal tentang domba Garut, yaitu “Tandang di Lapang, Gandang di Lapang, Indah Dipandang serta Enak Dipanggang”. Seni ini melibatkan kontes dalam memilih bibit domba Garut terbaik sebagai raja dan ratu bibit.
Pada kesenian taari pertemuan kedua ini membahas tentnag koregorafi. Koreografi tari adalah proses merancang atau menyusun gerakan-gerakan tari dalam suatu pertunjukan atau karya seni tari. Koreografi mencakup segala aspek yang terkait dengan pengaturan gerakan, formasi, ekspresi, serta hubungan antar penari, baik dalam satu kelompok atau lebih. Tujuan dari koreografi adalah untuk menciptakan susunan gerakan yang terstruktur dan mengungkapkan pesan, cerita, atau emosi melalui gerakan tubuh, menurut Bambang.
Setiap pelatihan yang dilakukan selalu dimulai dengan teori, dan dilanjutkan dengan praktik. Setiap pertemuan akan terus mempelajari materi yang berbeda dan berkelanjutan agar pelatihan yang dihasilkan menjadi sebuah karya yang baik.





