[Senin, 10 Februari 2025]
Girimukti – Kab. Garut Jawa Barat: Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilakukan pada Senin, 10 Februari 2025 dan bertempat di Gedung Sergabuna Girimukti Desa Girimukti, Kecamatatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk menciptaan sebuah seni kolaborasi tradisional garut yang terdiri dari beberapa seni tradisional yaitu: Seni Dodombaan, Seni Tari tradisional, Seni Gamelan Degung, Seni Gamelan Awi, Seni Badeng. Adapun Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing bahkan narasumber tersebut memiliki sanggar yang telah dikembangkan di Kabupaten Garut. Adapun narasumber terdiri dari (1) Usman Suhana Basri, S.Sn. (Seni Gamelan Degung) (2) Bambang JB, S.Sn. (Seni Tari Tradisional) (3) Dedi Djunaedi. (Sanggar Seni Badeng) (4) Tatang Suparman (Seni Jampana Dodombaan) (5) Dedi Supriadi (Seni Gamelan Awi). Dengan materi yang dibawakan ialah (1) Dasar Seni Badeng, Sejarah dan Perkembangannya (2) Sejarah dan Tangga Nada Musik Tradisional Gamelan Degung (3) Proses Penciptaan Karya Musik Tradisional Gamelan Awi (4) Pengantar Seni Jampana Dodombaan. (5) Pengantar Seni Tradisional.
Pada pertemuan pertama, kegiatan ini diawali pembukaan dan sambutan yang disampaikan oleh Penanggung Jawab Kegiatan yang diwakili oleh Bapak Yudi Habibi sekaligus pemukulan gong untuk menandakan kegiatan pelatihan akan dimulai. Selanjutnya, kegiatan ini juga diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh moderator. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber. Sesi praktik, peserta dibagi kedalam lima kelompok kesenian yang didalamnya bervariasi jumlahnya.

Usman Suhana Basri, S.Sn Mengatakan bonang, terdiri dari 14 penclon dalam ancaknya. Berderet mulai dari nada mi alit sampai nada La agend. Saron/Cempres, terdiri dari 14 wilah. Berderet dari nada mi alit sampai dengan La rendah. Jengglong terdiri dari enam buah. Penempatannya ada yang digantung dan ada pula yang disimpan seperti penempatan kenong pada gamelan pelog. Suling, suling yang dipergunakan biasanya suling berlubang empat. Kendang, terdiri dari satu buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter). Teknis pukulan kendang asalnya dipukul/ditakol dengan mempergunakan pemukul. Dalam perkembangannya sekarang kendang pada gamelan degung sama saja dengan kendang pada gamelan salendro-pelog. Gong, pada mulanya hanya satu gong besar saja, kemudian sekarang memakai kempul, seperti yang digunakan pada gamelan pelog-salendro. Jengglong untuk balunganing gending, Suling untuk pembawa melodi, Kendang untuk pengatur irama, Saron untuk lilitan melodi, Bonang untuk lilitan balunganing gending, dan Gong untuk paganteb wilet. Bonang untuk pembawa melodi, Suling untuk lilitan melodi, Saron/Cempres untuk lilitan melodi, Panerus untuk cantus firmus, Jengglong untuk balunganing gending, dan Gong untuk panganteb wiletan.
Istilah “degung” memiliki dua pengertian: pertama, adalah nama seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat Sunda, yakni gamelan-degung. Kedua, dihubungkan dengan kirata basa, kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa fungsi kesenian ini dahulunya digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan.
“Seni Badeng merupakan salah satu jenis kesenian yang masuk ke dalam rumpun kesenian Angklung. Kesenian yang masuk ke dalam rumpun Angklung ini, di Jawa Barat berjumlah 21 jenis. Jenis-jenis kesenian Angklung itu, antara lain, adalah: gubrag di Cipining-Bogor, bungko di Bungko-Cirebon, badud di Cijulang-Ciamis, dogdog di Mekarwangi-Pandeglang, reak di Situraja-Sumedang, dogdog lojor di Ciptarasa-Sukabumi, buncis di Arjasari-Bandung, dan Angklung Sunda/Indonesia di Saung Angklung Udjo-Bandung.” Ujar Dedi Djunaedi

Gamelan awi merupakan perangkat gamelan Sunda yang dibuat dari bambu sebagai bahan instrumennya. Terdapat pula para seniman yang menyebutnya dengan gamelan “dewi” singkatan dari Awi. Gamelan awi dalam karawitan Sunda merupakan tiruan dari gamelan yang telah ada sebelumnya yakni gamelan salendro dan gamelan Awi yang terbuat dari bahan besi, kuningan, maupun perunggu. Oleh karena itu, gamelan awi umumnya terdiri dari tiga laras yaitu gamelan awi yang berlaras salendro, laras pelog, dan gamelan awi yang berlaras madenda. Tutur Dedi Supriadi
Menurut Bambang, Tari tradisi adalah jenis tarian yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dalam suatu masyarakat atau budaya tertentu. Tari ini memiliki bentuk yang tetap dan mengikuti pola gerakan, kostum, musik, serta nilai-nilai budaya yang sudah ada sejak lama.
Dodombaan adalah kesenian tradisional dari Kabupaten Garut yang berasal dari Kp. Ciharashas Desa Panembong, Kecamatan Bayongbong. Kesenian ini merupakan adaptasi dari adu ketangkasan domba Garut dan seni Jampana. Menurut legenda, sejarah domba Garut dimulai pada masa pemerintahan Bupati Suryakanta Legawa sekitar tahun 1815-1829. Ia sering mengunjungi temannya di perguruan yang bernama Haji Saleh, yang memiliki banyak domba. Ujar Tatang Supurman
Pertemuan pertama ini membahas dasar dan pengatar dari setiap seni tradisional. Tentunya pertemuan ini juga mempraktikkan hal-hal dasar. Kemudian untuk pertemuan berikutnya akan membahas materi lanjutan dan terus berkembang dan mengalami peningkatan.





