[Sabtu, 10 Mei 2025]
Girimukti – Kab. Garut (Jawa Barat): Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilakukan pada Sabtu, 10 Mei 2025 dan bertempat di Gedung Aula Al-Khaeriyah Cibatu, Jl. Jend. A. Yani, Cibatu, Keresek, Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.
Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk melatihan pemuda serta masyarakat dalam membuat sebuah pertunjukan kesenian kreasi yang di dalamnya terdiri dari beberapa kesenian, yaitu: Seni Musik Dwiwarna, Seni Angklung, Seni Tari Kreasi, Seni Arumba, dan Seni Raja Dogar. Dari beberapa kesenian ini juga dikreasikan dan ditampilkan secara kolaboratif. Adapun Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing yaitu: (1) Raya Tri Saputra, S.Pd (Seni Musik Dwiwarna), (2) Rosa Nur Afifah (Seni Angklung), (3) Gan Gan Galih Gandara, S.Sn. (Seni Tari Kreasi), (4) Ricky Destiawan (Seni Arumba), dan (5) Hermanto (Seni Raja Dogar).
Narasumber atau pelatih kesenian menyampaikan materi lanjutan dari keseniannya masing-masing yaitu: (1) Filosofis Dwiwarna dan Seni Pertunjukan (2) Refleksi Angklung (3) Prosedur Pembuatan Tari dan Motivasi (4) Arumba Media Kreasi dan Kolaborasi Pertunjukan (5) Refleksi dan Praktik Raja Dogar. Selanjutnya, kegiatan ini juga diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh Riko Robi sebagai moderator acara ini. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber/pelatih.

Rosa Nuraf menyatakan Bermain angklung tidak hanya sebagai alat musik tradisional, tetapi juga memberikan manfaat seperti: meningkatkan koordinasi antara tangan dan telinga, meningkatkan rasa percaya diri saat bermain di depan umum, melatih kesabaran untuk menyelaraskan diri dengan pemain lain, menghilangkan stres dan menyegarkan pikiran dengan bermain musik. Kesimpulannya Angklung adalah warisan budaya Indonesia yang sangat berharga. Melalui angklung, kita dapat belajar tentang sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Dengan terus melestarikan angklung, kita turut menjaga identitas bangsa dan memperkaya khazanah budaya dunia.

“Arumba dalam perkembangan angklung hingga saat ini, angklung telah menjadi alat musik tradisional yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman dan perkembangan musik. Dengan inovasi Deang Sutigna mengembangkan angklung dengan menggunakan nada-nada diatonis, maka tidak menutup kemungkinan dapat dijadikan media kreasi bagi seniman musik. Angklung tidak hanya menjadi pertunjukan yang khusus tetapi telah berkembang menjadi media pengembangan musik yang lebih terbuka. Para musisi dapat menggunakan angklung sebagai media untuk berkarya dan berkespresi. Pertunjukan angklung dapat diwujudkan dalam bentuk orkestrasi yang lebih megah. Selain itu juga , Tidak hanya dijadikan sebgai pertunjukan angklung yang berdiri sendiri, kini pertunjukan musik angklung berkembang dan dapat digabungkan dengan beberapa pertunjukan seni lainnya seperti tari, teater, dan bahkan seni rupa. Ada beberapa pertunjukan angklung dapat dikolaborasikan dengan pertunjukan tari seperti yang saat ini sering dipentaskan di saung Udjo Bandung. Bahkan dalam teater angklung dapat dikolaborasikan dengan pertunjukan Wayang Golek.” ucap Ricky Destiawan pelatihan Kesenian Arumba.

“Selanjutnya, sebuah tari harus di evaluasi Tari bukan hanya sekadar gerakan tubuh, tetapi juga merupakan warisan budaya yang mengandung makna, sejarah, dan identitas. Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan globalisasi, penting bagi kita untuk terus menjaga dan melestarikan tarian tradisional, serta mengembangkan tari kreasi yang inovatif, sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya bangsa kita. Selain itu juga dapat memotivasi Generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya kita. Kita tidak hanya dituntut untuk memahami dan mengapresiasi, tetapi juga untuk berperan aktif dalam merawat dan mengembangkan tarian. Lestarikan dan Kembangkan kebudayaan sekitar, bangga pada Identitas Budaya, jaga Spirit Gotong Royong dan Kolaborasi” Ujar Gan Gan Galih Gandara, Pelatih Seni Tari Kreasi.

Hermanto menjelaskan bahwa ajanya Domba Garut atau Raja Dogar adalah seni pertunjukan yang menampilkan dua orang saling beradu sambil menggunakan kostum menyerupai domba. Mirip barongsai, pertunjukan “raja domba” dimainkan oleh dua orang, masing-masing di bagian kepala serta badan domba. Seni pertunjukan Raja Dogar diiringi musik tradisional Sunda, seperti kendang pencak, reog, angklung hingga kulanter. Menariknya, sebagai acara hiburan, Raja Dogar juga kerap dipentaskan secara nasional hingga internasional. Namun Raja Dogar sekarang ini jarang dimainkan oleh generasi muda, sehingga perlahan mulai terlewatkan. Kesenian Raja Dogar harus diambil alih langsung juga oleh geenrasi muda untuk merawat seni dan budaya kabupaten garut, tutur Hermanto – Pelatih Raja Dogar.

Materi dalam Musik Dwiiwarna mempelajari tentang musi dwiwarna dalam suatu pertunjukan. Musik inilah akan mengiring dari awal pertunjukan sampai berakhirnya pertunjukan. Mereka dilatih mulai dari awal sehingga dapat menjadi pemain musik yang baik sehingga dapat mengiringi kesenian kreasi lainnya, penjelasan Raya Tri Saputra.

“Pertemuan Terakhir ini peserta melakukan sebuah pertunjukkan seni kreasi sederhana yang menampilkan hasil dari pembelajaran selama lima kali pertemuan. Dimulai dari persiapan dan gladi resik dan persipan proses pertunjukan berlangsung. Dari hasil penampilan pertunjukkan seni kreasi garut terlihat bahwa para peserta sangat menguasai kesenian yang telah dipelajari. Setelah berlangsungnya pertunjukan, kita melakukan ceremonial penutupan yang dimulai dari pembukaan, menyanyikan lagu indonesia raya, sambutan sekaligus ditutup oleh penanggung jawab kegiatan, kemudian pemberian plakat penghargaan kepada seluruh narasumber/pelatih. Dan pemberian setifikat kepada peserta. Banyak benefit yang didapatkan oleh peserta diantara yaitu, uang saku setiap pertemuan, kaos peserta, id card, sertifikat, relasi, dan pengetahuan, ucap Penanggung Jawa kegiatan, Herman Hidayat.




