[Sabtu, 26 April 2025]
Girimukti – Kab. Garut (Jawa Barat): Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilakukan pada Sabtu, 15 Februari 2025 dan bertempat di Gedung Aula Al-Khaeriyah Cibatu, Jl. Jend. A. Yani, Cibatu, Keresek, Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.
Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk melatihan pemuda serta masyarakat dalam membuat sebuah pertunjukan kesenian kreasi yang di dalamnya terdiri dari beberapa kesenian, yaitu: Seni Musik Dwiwarna, Seni Angklung, Seni Tari Kreasi, Seni Arumba, dan Seni Raja Dogar. Dari beberapa kesenian ini juga dikreasikan dan ditampilkan secara kolaboratif. Adapun Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing yaitu: (1) Raya Tri Saputra, S.Pd (Seni Musik Dwiwarna), (2) Rosa Nur Afifah (Seni Angklung), (3) Gan Gan Galih Gandara, S.Sn. (Seni Tari Kreasi), (4) Ricky Destiawan (Seni Arumba), dan (5) Hermanto (Seni Raja Dogar).

Narasumber atau pelatih kesenian menyampaikan materi lanjutan dari keseniannya masing-masing yaitu: (1) Teori Ritme dan Praktik (2) Filosofi Angklung dan Tekniknya. (3) Tarian Modern (4) Arumba Penyerdehanaan Pertujukan Angklung. (5) Seni Pertunjukan Raja Dogar. Selanjutnya, kegiatan ini juga diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh Riko Robi sebagai moderator acara ini. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber/pelatih.

Rosa Nuraf Memainkan angklung terbilang mudah, namun membutuhkan koordinasi yang baik antar pemain. setiap pemain bertanggungjawab atas nada tertentu, sehingga ketika dimainkan bersama-sama akan menghasilkan melodi yang indah. Memainkan angklung mengajarkan kerjasama dan gotong royong antar pemain. kesederhanaan angklung terletak pada bahan bambu dengan suara indah. Bunyi angklung yang harmonis melambangkan hidup rukun dan damai. Kearifan lokal, angklung adalah simbol dari kearifan lokal masyarakat sunda. Pegang rangka angklung dengan satu tangan. Goyangkan angklung dengan tangan lainnya hingga tabung-tabungnya saling beradu dan menimbulkan bunyi. Tarik tabung dasar angklung dengan cepat menggunakan jari ke telapak tangan. Angklung akan berbunyi sekali saja seperti suara yang menghentak. Pegang salah satu tabung angklung dengan jari. Tabung tersebut tidak ikut bergetar dan hanya menghasilkan satu suara saja.

“Arumba adalah sebuah alat musik Ansambel yang dibuat dari potongan bambu seperti gambang atau saron yang dibunyikan dengan cara dipukul. Musik Arumba diperkirakan berasal dari Jawa Barat dan telah ada sejak tahun 1960-an. Musik ini dikembangkan dari alat musik angklung. Konon pada tahun 1964, Yoes Roesadi dan kawan-kawan membentuk grup musik yang secara khusus menambahkan angklung pada jajaran ensemble-nya. Ketika sedang naik truk untuk pentas ke Jakarta, mereka mendapat ide untuk menamai diri sebagai grup Arumba (Alunan Rumpun Bambu). Kemudian sekitar tahun 1968, Muhamad Burhan di Cirebon membentuk grup musik yang bertekad untuk sepenuhnya memainkan alat musik bambu. Mereka memakai alat musik lama (angklung, calung), dan juga berinovasi membuat alat musik baru (gambang, bass lodong). Ensemble ini kemudian mereka beri nama Arumba (Alunan Rumpun Bambu). Sekitar tahun 1969, Grup Musik Arumba juga mengubah nama menjadi Arumba, sehingga timbul sedikit perselisihan istilah arumba tersebut. Dengan berjalannya waktu, istilah arumba akhirnya melekat sebagai ensemble musik bambu asal Jawa Barat.
Susunan ensemble gambang yang umum saat ini adalah: Angklung solo: adalah satu set angklung (biasanya 31 buah) yang tergantung pada palang. Angklung ini dimainkan oleh satu orang saja, sehingga pada satu saat, hanya dua angklung yang bisa digetarkan. Gambang Melodi: adalah gambang yang membunyikan melodi lagu (saling mengisi suara dengan angklung), dimainkan oleh satu orang dengan dua pemukul. Gambang pengiring: adalah gambang yang bertugas menghasilkan suara akord. Gambang ini dimainkan oleh seorang pemain dengan 4 pemukul. Bass lodong: terdiri atas beberapa tabung bambu besar yang dipukul untuk memberi nuansa nada rendah. Gendang: adalah alat musik pukul yang digunakan sebagai pembawa irama. Dengan berkembangnya inovasi baru, saat ini angklung solo mulai digantikan dengan angklung toel.” ucap Ricky Destiawan pelatihan Kesenian Arumba.

Selanjutnya, dalam tarian modern, jenis tarian yang berkembang dengan mengutamakan kreativitas, ekspresi individu, serta inovasi dalam gerakan, musik, dan konsep pertunjukan. Tidak seperti tari tradisional yang memiliki aturan atau pakem tertentu, tari modern lebih fleksibel dan dapat dipadukan dengan berbagai unsur dari budaya lain atau teknologi. Adapun ciri-cirinya dengan gerakan bebas dan dinamis, menggunakan musik beragam, dipengaruhi perkembangan zaman, ekspresif dan personal.” Ujar Gan Gan Galih Gandara, Pelatih Seni Tari Kreasi.

Hermanto menjelaskan dalam pembahasan mengenai Domba Garut, Domba merupakan hewan yang memiliki identitas erat dengan Kabupaten Garut. Masyarakat dunia mengenal Garut sebagai salah satu penghasil domba kualitas terbaik, sehingga Domba Garut menjadi ikon khas kota ini. Berangkat dari fakta tersebut, Entis Sutisna menciptakan Raja Dogar, ikon kesenian masyarakat Garut. Raja Dogar, yang berarti Raja Domba Garut, lahir pada tanggal 18 Desember 2005. Kampung Warung Kaler yang terletak di Kecamatan Malangbong, menjadi tempat lahir kesenian ini. Disebut Raja Dogar, karena dalam kesenian ini sang domba berukuran lebih besar daripada domba yang sebenarnya. Kesenian Raja Dogar berbentuk replika Adu Domba, atau yang sekarang lebih masyarakat kenal sebagai Lomba Ketangkasan Domba Garut. Bentuknya, hampir mirip dengan kesenian Barongsai. Satu orang bertugas sebagai kepala, dan yang lainnya bertugas sebagai badan serta ekor. Selain empat orang yang bertugas sebagai domba, belasan sampai puluhan pemain lain bertugas sebagai bobotoh para domba, tutur Hermanto – Pelatih Raja Dogar.

Materi dalam Musik Dwiiwarna mempelajari tentang ritme. Terdapat beberapa unsur dasar dalam sebuah karya musik seperti: bentuk (form), kerangka dasar (struktur), tinggi rendahnya nada (picth), melodi, harmoni, warna suara dan ritme, ritme merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah komposisi. dalam mempelajari ritme terdapat tiga aspek yang harus diperhatikan yaitu, tanda birama bentuk not, dan tanda istirahat, penjelasan Raya Tri Saputra.

“Pertemuan Ketiga terlihat para peserta mulai dapat menggerakan dan memainkan kesenian secara baik, hal ini digambarkan dengan setiap kelompok akan melakukan penampilan sederhana hasil dari pelatihan yang didapatkan dari beberapa pertemuan ini. Harapannya peserta terus meningkat kemampuannya sehingga kita dapat menampilkan seni pertunjukan kreasi nantinya”. ucap Pengurus Yayasan Lawung Giri Pamukti, Yudi Habibi.




