[Sabtu, 03 Mei 2025]
Girimukti – Kab. Garut (Jawa Barat): Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilakukan pada Sabtu, 03 Mei 2025 dan bertempat di Gedung Aula Al-Khaeriyah Cibatu, Jl. Jend. A. Yani, Cibatu, Keresek, Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.
Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk melatihan pemuda serta masyarakat dalam membuat sebuah pertunjukan kesenian kreasi yang di dalamnya terdiri dari beberapa kesenian, yaitu: Seni Musik Dwiwarna, Seni Angklung, Seni Tari Kreasi, Seni Arumba, dan Seni Raja Dogar. Dari beberapa kesenian ini juga dikreasikan dan ditampilkan secara kolaboratif. Adapun Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing yaitu: (1) Raya Tri Saputra, S.Pd (Seni Musik Dwiwarna), (2) Rosa Nur Afifah (Seni Angklung), (3) Gan Gan Galih Gandara, S.Sn. (Seni Tari Kreasi), (4) Ricky Destiawan (Seni Arumba), dan (5) Hermanto (Seni Raja Dogar).

Narasumber atau pelatih kesenian menyampaikan materi lanjutan dari keseniannya masing-masing yaitu: (1) Bentuk, Nama, Nilai, Not dan Tanda Diam (2) Conductor. (3) Tari Kontemporer (4) Jenis Alat dan Teknik Arumba dan (5) Raja Dogar Kolaborasi. Selanjutnya, kegiatan ini juga diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh Riko Robi sebagai moderator acara ini. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber/pelatih.

Rosa Nuraf menyatakan Conductor atau dirigen angklung adalah orang yang memberikan aba-aba dalam bermain angklung. Dalam permainan angklung interaktif, dirigen menggunakan isyarat tangan sebagai pengganti partitur. Dalam permainan angklung interaktif, dirigen menggunakan isyarat tangan untuk merepresentasikan nada dan jumlah ketukan. Isyarat tangan tersebut memanfaatkan tiga joints yaitu bahu, siku, dan pergelangan tangan. Nilai sudut yang terbentuk dari ketiga joints tersebut digunakan sebagai masukkan dalam proses pemetaan output. Dalam budaya Indonesia, angklung sering dihubungkan dengan nilai-nilai gotong royong, kerjasama, dan kebersamaan. Tradisi bermain angklung dalam kelompok mengajarkan pentingnya mendengarkan, merespons, dan bersatu untuk menciptakan harmoni.

“Angklung solo adalah konfigurasi yang menggantungkan satu unit angklung melodi pada suatu palang sehingga bisa dimainkan satu orang saja. Sesuai dengan konvensi nada diatonis, maka ada dua jajaran gantungan angklung. Yang bawah berisi nada penuh, sedangkan yang atas berisi nada kromatis. Angklung solo ini digagas oleh Yoes Roesadi tahun 1964, dan dimainkan bersama alat musik basanova dalam grup Aruba (Alunan Rumpun Bambu). Sekitar tahun 1969, nama Aruba ini disesuaikan menjadi Arumba. Gambang terdiri dari dua jenis antara lain: Gambang Melodi: adalah gambang yang membunyikan melodi lagu (saling mengisi suara dengan angklung), dimainkan oleh satu orang dengan dua pemukul. Gambang pengiring: adalah gambang yang bertugas menghasilkan suara akord. Gambang ini dimainkan oleh seorang pemain dengan 4 pemukul. Bass lodong: terdiri atas beberapa tabung bambu besar yang dipukul untuk memberi nuansa nada rendah. Kendang: adalah alat musik pukul yang digunakan sebagai pembawa irama.” ucap Ricky Destiawan pelatihan Kesenian Arumba.

“Selanjutnya, pembahasan mengenai tarian kontemporer dalam Tarian yang berkembang dengan pendekatan eksperimental dan inovatif, tidak terikat pada aturan atau tradisi tertentu. Tari ini sering kali menjadi media ekspresi bebas bagi koreografer dan penari dalam menyampaikan ide, emosi, atau pesan tertentu. Cirinya ialah bebas tidak terikat pakem, eksploratif dan kreatif, memiliki makna filosofis, gerakan beragam” Ujar Gan Gan Galih Gandara, Pelatih Seni Tari Kreasi.

Hermanto menjelaskan bahwa Fungsi hiburan merupakan fungsi utama kesenian ini. Hal itu membuatnya dapat ditampilkan di berbagai jenis acara dan di berbagai jenis arena. Selain sebagai media hiburan, kesenian ini juga sering dipakai untuk mengarak anak-anak yang baru dikhitan. Seni Kendang Pencak adalah musik pengiring dalam kesenian ini. Dalam perjalanannya, Raja Dogar memiliki beberapa persinggahan, seperti Malangbong, Cibatu, dan Wanaraja. Walaupun sekarang mereka menetap dan berkembang di Kecamatan Wanaraja, namun masih ada peninggalan karya Raja Dogar di Kecamatan Malangbong dan Cibatu. Meskipun ketiganya masih tetap berada dalam manajemen Entis Sutisna. Eksistensi kesenian ini memang tergolong baru, namun Raja Dogar sudah berhasil mengharumkan nama Garut. Dengan intensitas seringnya Raja Dogar tampil dalam event-event regional, nasional, maupun internasional, kesenian ini berhasil mendongkrak nama Garut di mata masyarakat dunia, tutur Hermanto – Pelatih Raja Dogar.

Materi dalam Musik Dwiiwarna mempelajari tentang Tanda Birama. Tanda birama merupakan bagian penting dalam musik. penting karena tanda birama harus dapat mewakili dan membedakan perasaan (metris) dalam musik. bahkan bentuk-bentuk irama musik khas seperti mars, waltz, tanggo dan sejenisnya dapat dirasakan kerena perbedaan birama. tanda birama dipergunakan baik dalam penulisan musik yang menggunakan notasi balok maupun penulisan musik menggunakan notasi angka, penjelasan Raya Tri Saputra.
“Pertemuan Keempat terlihat para peserta sudah mulai mempelajari gerakan dan permainan dalam pertunjukan kolaboratif. Para pelatih membantu dalam membentuk instrumen dan kreasi kolaborasinya. Hal ini dilakukan agar dapat mengkombinasikan beberapa kesenian untuk menghasilkan suatu karya yang indah. Pertemuan keempat ini juga peserta pelatihan akan mencoba beberapa dari gladi resik hasil pelatihan yang telah dipelajarinya. Harapannya peserta terus meningkat kemampuannya sehingga pada pertemuan berikutnya peserta didik pasti dapat memberikan dalam menampilkan kemampuan terbaiknya”. ucap Pengurus Yayasan Lawung Giri Pamukti, Yudi Habibi.




