[Sabtu, 29 Maret 2025]
Girimukti – Kab. Garut (Jawa Barat): Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dengan tema Merajut Budaya, Adat Istiadat, Tradisi Garut yang Berkelanjutan. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Kegiatan Pelatihan Seni Kreasi Garut dilakukan pada Sabtu, 29 Maret 2025 dan bertempat di Gedung Aula Al-Khaeriyah Cibatu, Jl. Jend. A. Yani, Cibatu, Keresek, Garut, Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.
Tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk melatihan pemuda serta masyarakat dalam membuat sebuah pertunjukan kesenian kreasi yang di dalamnya terdiri dari beberapa kesenian, yaitu: Seni Musik Dwiwarna, Seni Angklung, Seni Tari Kreasi, Seni Arumba, dan Seni Raja Dogar. Dari beberapa kesenian ini juga dikreasikan dan ditampilkan secara kolaboratif. Adapun Kegiatan Pelatihan Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi dilatih oleh narasumber pelaku seni dan budaya yang memiliki kemampuan di bidang keseniannya masing-masing yaitu: (1) Raya Tri Saputra, S.Pd (Seni Musik Dwiwarna), (2) Rosa Nur Afifah (Seni Angklung), (3) Gan Gan Galih Gandara, S.Sn. (Seni Tari Kreasi), (4) Ricky Destiawan (Seni Arumba), dan (5) Hermanto (Seni Raja Dogar).

Narasumber atau pelatih kesenian membawa materi dari keseniannya masing-masing yaitu: (1) Pengatar Dwiwarna Combo, (2) Dasar Seni Angklung, (3) Pengantar Tari Kreasi (4) Pengantar Raja Dogar (5) Mengenal Dasar Arumba. Pada pertemuan pertama, kegiatan ini diawali pembukaan, menyanyikan lagu indonesia raya dan sambutan yang disampaikan oleh Penanggung Jawab Kegiatan yang diwakili oleh Bapak Hendri Ahmad Sarip sekaligus membuka kegiatan pelatihan seni kreasi garut.
Selanjutnya, kegiatan ini juga diawali dengan penyampaian materi dari masing-masing narasumber yang dipandu oleh Riko Robi sebagai moderator acara ini. Setelah materi disampaikan maka dilanjutkan dengan sesi diskusi dan praktik bersama narasumber. Sesi praktik, peserta dibagi kedalam lima kelompok kesenian yang didalamnya bervariasi jumlahnya.

Rosa Nuraf menyampaikan Secara etimologis, angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Adapun Bambu hitam (awi wulung): Biasanya digunakan untuk tabung suara. Bambu ini memiliki warna hitam keunguan yang unik. Bambu putih (awi temen): Jenis bambu yang biasa digunakan untuk angklung. Bambu apus (awi tali): Biasanya digunakan untuk dasar kerangka angklung. Bambu gombong: Biasanya digunakan untuk tiang rangka angklung. Bambu temen: Biasanya digunakan untuk tiang rangka angklung.

“Kemudian, Arumba adalah nama salah satu bentuk pertunjukan musik yang menggunakan seperangkat alat musik yang dibuat dari bambu dan masyarakat lebih mengenalnya sebagai Alunan Rumpun Bambu. Pembentukannya tidak dapat dilepaskan dari perjalanan seni musik angklung yang dikembangkan oleh Daeng Sutigna sejak tahun 1938. Sebelum mengenal sosok Daeng Sutigna sebagai tokoh yang mengembangkan angklung, ada baiknya kita mengenal sejarah perkembangan angklung di Jawa Barat. Angklung adalah salah satu alat musik tradisional Indonesia yang telah menjadi simbol kekayaan budaya Nusantara. Berasal dari Jawa Barat, angklung tidak hanya memainkan peran penting dalam upacara adat dan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda tetapi juga telah mendapatkan pengakuan internasional dan menjadi ikon global. Artikel ini mengupas perjalanan sejarah angklung dari akarnya di Sunda hingga meraih pengakuan dunia. Asal-Usul Angklung di Tanah Sunda, sebelum Indonesia mengenal pengaruh Hindu pada sekitar abad ke-5 Masehi, angklung diyakini sudah ada di Tanah Sunda. Alat musik ini terbuat dari tabung-tabung bambu yang digantung dalam bingkai bambu dan diikat dengan tali rotan. Jaap Kunst dalam bukunya “Music in Java” menyebutkan bahwa angklung juga ditemukan di Sumatera Selatan dan Kalimantan, meskipun lebih dikenal sebagai alat musik tradisional Jawa Barat” ucap Ricky Destiawan pelatihan Kesenian Arumba.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan tari itu ialah suatu bentuk ekspresi seni yang menggunakan gerakan tubuh berirama yang dilakukan dalam suatu pola tertentu untuk menyampaikan perasaan, cerita, atau pesan tertentu. Tari bisa bersifat tradisional, modern, atau kontemporer, tergantung pada budaya, zaman, dan tujuan penciptaannya. Dan tari juga memiliki nilai keindahan atau estetika bagi yang menikmatinya. Selain itu terdapat banyak genre yang ada di kesenian tari yaitu jaiponggan, rakyat, keurses, kreasi baru, dan topeng. Ujar Gan Gan Galih Gandara, Pelatih Seni Tari Kreasi.

Adapun Raja Dogar adalah salah satu kesenian yang berasal dari kabupaten Garut yang lahir di kampung Cikarag Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut sekitar tahun 2005 yang diciptakan oleh tokoh seni bernama Entis Sutisna. Pada tahun 2008 Raja Dogar berpindah dan berkembang di Kp. Loji Desa Keresek Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut hingga sekarang seiring berpindahnya Entis Sutisna ke daerah tersebut. Munculnya Raja Dogar ini dibuat oleh Entis Sutisna seniman dari Garut dimana awal penciptaannya diilhami dari salah satu hewan ternak yang menjadi kebanggaan masyarakat Garut, yakni Domba Garut. Berawal dari itu, maka Entis Sutisna mencoba menciptakan bentuk sajian seni pertunjukan dimana Domba Garut divisualisasikan dalam bentuk boneka besar yang dimainkan oleh 2 orang, tutur Hermanto, Pelatih Raja Dogar.

Dalam Musik Dwiiwarna dijelaskan bahwa Ansambel merupakan permainan musik yang disajikan dengan jumlah beberapa orang atau sekelompok orang dan juga jumlah alat musik tertentu, baik alat musik sejenis maupun alat musik yang berbeda. Pada awalnya, musik ansambel disebut dengan musik kamar (Chamber Music, Musica de Camera). Hal itu terjadi pada zaman Barok sekitar tahun 1600-1750. Pada waktu itu musik ansambel dilantunkan dengan jenis musik yang terdiri dari alat-alat gesek dan alat-alat tiup saja. Nama musik ansambel dikaitkan dengan kondisi sebuah ruangan khusus yang tidak terlalu luas. Hingga pada tahun 1750, ansambel atau musik kamar ini menjadi dipentaskan pada orang banyak, dan dikenal seperti saat ini. Menurut peranan dan fungsinya alat-alat musik yang digunakan dalam bermain musik ansambel dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu alat musik melodis, alat musik ritmis, dan alat musik harmonis. Setelah musik ansambel, chamber atau musik kamar ini di pentaskan, muncul lah istilah band. Band, berasal dari bahasa Prancis Kuno bande, “pasukan”. Band adalah sekumpulan para musisi yang memainkan alat musik tiup kayu, kuningan, dan perkusi, berbeda dengan orkestra , yang berisi alat musik gesek. Istilah ini pertama kali digunakan di Inggris untuk diterapkan pada “band kerajaan” yang terdiri dari 24 biola di istana Charles II. Fungsi band ini berkembang sangat luas Seperti, menjadi bagian dari perlengkapan kehidupan militer, mengiringi pasukan berkuda, tradisi Kerajaan, ibadah, pertunjukan dll.” Raya Tri Saputra.

“Pertemuan pertama ini membahas dasar dan pengatar dari setiap kesenian kreasi. Tentunya pertemuan ini juga mempraktikkan hal-hal dasar. Kemudian untuk pertemuan berikutnya akan membahas materi lanjutan, sehingga setiap pertemuannya peserta pelatihan dapat terus meningkat keterampilannya”. ucap penanggung jawab kegiatan, Herman Hidayat.





